Tampilkan postingan dengan label Religious. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religious. Tampilkan semua postingan
Natasha
Rut 4:14-15
Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki."
Bacaan Alkitab Setahun:Mazmur 88; Roma 16; Ulangan 23-24
''Hidup itu penuh dengan kemalangan,'' demikian kata-kata pahit yang keluar dari mulut seorang janda bernama Naomi (Rut 1:20,21). Bayangkan kondisi seorang wanita yang baru saja ditinggal oleh suami dan bahkan anak-anak laki-lakinya. Sang janda yang malang ini hidup di tengah kelaparan di perantauan bersama kedua menantunya. Ia menolak dipanggil Naomi--yang artinya kesenangan, dan meminta dipanggil Mara, yang berarti pahit. Dan pada masa tuanya, ia hanya punya keinginan sederhana, yaitu menikmati masa tua yang tenang dengan menimang cucu. Namun, semua itu menjadi tidak mungkin sebab kedua anak lelakinya mati tanpa meninggalkan keturunan!
Bukankah kita juga demikian? Hidup kita dipenuhi dengan mimpi dan harapan. Banyak hal kita cita-citakan. Namun, ketika sesuatu terjadi dalam hidup ini dan mengandaskan impian kita, maka kita merasa hidup dan semangat kita pun hancur bersamanya. Dalam kondisi demikian, kita pun semakin sulit memahami bahwa Tuhan pasti memiliki rancangan yang baik. Bahwa Dia memiliki “mimpi” bagi hidup kita dan pasti menjadikan segala sesuatu baik pada waktunya.
Kita tahu, cerita Naomi ini adalah kisah yang berakhir dengan kebahagiaan. Pada akhirnya Alkitab menulis bahwa Naomi memangku cucunya dengan gembira pada hari tuanya (4:16). Dan bukan hanya itu, mimpi Allah bagi dirinya juga terwujud, karena pada akhirnya Naomi mengenal bahwa Allah memelihara hidupnya (ayat 14). Hari ini, jika kita menilik lagi mimpi kita yang kandas, lihatlah rancangan besar-Nya; Dia selalu ada dan memelihara dengan sempurna. (Henry Sujaya Lie/Renunganharian.net)
Mimpi besar kita mungkin bisa saja kandas, namun kita harus yakin bahwa penyertaan Tuhan tidak pernah lepas.
Natasha

Mazmur 16:8

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 81; Roma 9; Ulangan 9-10
Charles Spurgeon, pengkotbah legendaris asal Inggris ini menuai banyak kontroversi di masa-masa puncak pelayanannya. Media di jamannya senang memuat berita tentang dirinya. Mereka mengambil keuntungan dari sebuah target yang besar, seorang pengkotbah yang juga manusia biasa. Pada umumnya ia dapat mengendalikan diri, tetapi ada satu titik dimana menurutnya apa yang diberitakan sudah keterlaluan. Sama seperti kita, Spurgeon pun memiliki batas kesabaran.
Istrinya memperhatikan depresi yang dialami Spurgeon. Ia menjadi prihatin akan keadaan suaminya, dan berharap agar ia tidak kehilangan semangat dan kesempatan sementara menjalani masa-masa sulit tersebut. Rasa keprihatinannya itu, membuat Ny, Spurgeon melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia membuka Alkitabnya di perikop Kotbah Di Bukit, dimana Yesus berkata:
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:11-12)
Dengan tulisan tangannya sendiri, sang istri menuliskan kata-kata itu di sebuah kertas besar. Kemudian ia menempelkannya di langit-langit di atas ranjang. Ketika sang pengkotbah membalikkan badan keesokan paginya, ia terbangun dan mengedip-ngedipkan matanya, ia membaca kata-kata tersebut. Ia membacanya dengan keras. Ia terfokus secara vertikal kepada apa yang dikatakan Allah dan hal tersebut memperbaharui hatinya. Bukankah ide Ny. Spurgeon sungguh luar biasa?
Hal yang sama juga dapat Anda alami, jika Anda mengarahkan pandangan Anda vertikal lurus kepada Allah, maka Anda akan mendengar Dia berbicara langsung kepada hati Anda. Percayalah, perjumpaan dengan Allah kala penderitaan menekan akan mengubahkan kehidupan Anda. Anda tidak sendiri. Tuhan selalu bersama dengan Anda.
Kekuatan Anda adalah ketika Anda mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Natasha
Yeremia 23:3-4
Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 70; Markus 14; Bilangan 23-24
Kesetiaan dan ketaatan, dalam dua hal ini kita sebagai manusia sulit untuk menjalankannya. Padahal seperti yang dituliskan oleh nabi Yeremia di atas, jika kita setia dan taat kepada Tuhan ada 3 berkat yang akan kita terima:
  1. Berlipat ganda.
  2. Tidak takut dan tidak terkejut oleh hal buruk yang datang
  3. Ada penjagaan yang sempurna
Apakah Anda ingin menerima berkat ini? Dalam firman Tuhan di atas, ada syarat yang harus Anda lakukan untuk bisa menerimanya. Tuhan telah mengangkat gembala-gembala atas kita domba-domba Tuhan. Taat dan setialah kepada gembala-gembala tersebut, selain kepada Gembala Agung kita Tuhan Yesus.
Jika kita tidak taat kepada gembala yang kelihatan, maka bagaimana kita bisa berkata taat dan setia kepada Gembala Agung kita yang tidak kelihatan oleh mata. Dan jika Anda tidak memiliki sikap penundukan diri ini, Anda akan melewatkan berkat yang indah tersebut.
Siapakah yang menjadi gembala yang Tuhan tempatkan dalam hidup Anda saat ini? Dia bisa jadi suami Anda, gembala di gereja Anda, dan juga pemimpin di perusahaan Anda. Merekalah yang Tuhan percayakan untuk menjadi penjaga Anda, jadi mari belajar taat dan setia kepada mereka, dan hormatilah mereka sebagaimana seharusnya.
Ada berkat dalam penundukan diri pada otoritas, yaitu pelipatgandaan, perlindungan dan rasa aman.
Natasha

Ayub 1:20-22

Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 83; Roma 11; Ulangan 13-14
Apa respon Anda ketika Anda mendengar suatu berita buruk atau bahkan sesuatu yang sangat buruk menimpa Anda? Marah? Sedih? Menangis? Atau mungkin kombinasi dari ketiga hal itu? Ya, itu adalah reaksi yang manusiawi ketika kita mendengar sesuatu yang buruk atau kita mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Tapi apakah hal itu benar? Mari kita lihat respon Ayub ketika ia mengalami hal buruk.
Dihari yang sama, Ayub mendapatkan beberapa kabar beruntun yang tidak pernah ia bayangkan dapat terjadi dalam hidupnya:
  1. Semua lembu, sapi dan keledai-keledainya dirampas oleh orang-orang Syeba, tidak hanya itu semua penjaganya di bunuh. Hanya satu yang berhasil selamat, yang menyampaikan berita ini kepada Ayub.
  2. Orang-orang Kasdim menyerang di hari yang sama dan merebut semua unta-untanya, dan juga semua hambanya yang menjaga unta-unta tersebut dibunuh. Hanya satu yang selamat dan memberitahukan kabar menyedihkan itu.
  3. Tidak berhenti disana, seorang hamba datang dan memberitahukan kabar duka, semua anak laki-laki dan perempuan Ayub tewas karena angin ribut. Lagi, hanya ada satu hamba yang selamat dari rumah anaknya yang sulung tempat anak-anaknya sedang berkumpul.
Apa yang dilakukan Ayub setelah mendengar semua itu sungguh mengagumkan. Dia tidak marah-marah, berteriak ataupun menangis. Memang Ayub mengambil sikap berkabung dengan mengoyakkan jubahnya dan mencukur kepalanya, tapi kemudian dia sujud dan menyembah Tuhan. Sujud dalam ayat diatas adalah jatuh meniarap, menunduk dan menyembah. Ayub menyatakan penghormatan pada Tuhan tanpa sedikitpun kata-kata hujatan atau kecewa keluar dari mulutnya. Ia tetap memuji dan meninggikan Tuhan. Anda tahu satu-satunya pribadi yang memaki dan menghujat Tuhan saat itu? Si Jahat, iblis, dia pasti sangat marah melihat respon Ayub saat itu karena tidak berhasil membuat Ayub melakukan sesuatu yang tercela sekalipun segala milik Ayub telah di ambilnya.
Bisakah kita bersikap seperti Ayub hari-hari ini? Tentu bisa. Seperti yang Ayub katakan, kita lahir telanjang dan pulang ke rumah Bapa dengan telanjang pula. Satu-satunya yang benar-benar kita miliki dalam hidup ini adalah Sang Pemberi Kehidupan itu sendiri. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka dalam keadaan apapun asalkan kita memiliki Tuhan dalam hidup kita, kita akan masih dapat bersyukur.
Anda dapat kehilangan segala-galanya dalam hidup, namun asalkan Tuhan masih dalam hidup Anda, itu lebih dari cukup.
Natasha

Yakobus 5:9-10

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 89; Lukas 1; Ulangan 25
Ketidak pedulian adalah awal kejatuhan manusia, itu adalah kesimpulan saya ketika merenungkan kisah Adam dan Hawa. Mengapa saya bisa menyimpulkan hal ini? Anda bisa membacanya dalam Kejadian 3, bahwa saat Hawa berbincang seru tentang pohon terlarang itu Adam ada di dekatnya. Adam mendengar dan tahu apa yang dibicarakan oleh Hawa dan si ular.
Kejadian 3:6 mencatat, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Adaikata Adam perduli dengan istrinya, ia akan bertindak dengan menghardik ular itu dan menasehati istrinya. Namun hal itu tidak pernah terjadi.
Dosa ketidak pedulian ini sepertinya menjadi dosa turunan hingga saat ini. Karena ketidak pedulian kita, seorang istri atau suami jatuh dalam dosa seksual, atau seorang teman jatuh dalam korupsi. Andaikata saja kita tidak bersikap seperti Adam dan mengambil tindakan seperti menasehati dan mengingatkan orang tersebut, tentunya hal itu tidak akan terjadi.
Hari ini mari kita belajar dari kesalahan Adam, mari kita menaruh kepedulian kepada orang sekitar kita. Karena jika kita tidak peduli, dan orang tersebut akhirnya terhilang maka Tuhan akan menuntut pertanggung jawaban atas orang tersebut pada kita. (Puji Astuti/Jawaban.com)
Tuhan menuntut Anda untuk peduli kepada orang sekeliling Anda, karena Dia terlebih dulu menunjukkan kepedulian-Nya kepada Anda. Jangan jadi orang yang cuek dan egois.